 | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
Bagian 2 KANTATA TAKWA, Lautan Metafor ?
Film ini dibuka dengan adegan RENDRA bermimpi seorang laki2 berlarian dikejar-kejar "petrus" (meminjam istilah mas JSOP). "Petrus" ini berseragam dengan menggunakan Jas Hujan jenis Ponco (Jubah) serta topeng gas. Tampilan awal dari film ini Cukup abu-abu ...
Aku mendengar suara Jerit makhluk terluka luka ... luka .... ... Orang-orang harus dibangunkan
Puisi Rendra yang juga lirik dari lagu kesaksian ini ... menjadi "inti"dari metafor yang tampil di film, ini ... tidak seperti lagu yang lain, lirik lagu ini berkali-kali muncul. Clara Sinta yang menjadi "Penyaksi" muncul hampir diseluruh film ini untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang terjadi pada "oknum-oknum" kantata.
Saya setuju, apa yang dibilang mas JSOP, bahwa Rendra dan Jabo adalah yang paling "matang" berhadapan dengan kamera. Rendra adalah "raja", penampilan ketika ia disidang serta beberapa kolaborasi dengan Bengkel Teater-nya juga memukau ... sangat "berdengung".
Saya sangat terpukau pada metafor Jabo di kandang sapi belepotan (mungkin lumpur, mungkin teletong). Juga dengan jenaka ia memegang bunga mawar yang tumbuh di belukar rimba, sambil juga berteriak dengan kalimat yang kira-kira "aku sawung jabo, pasti bukan sawunggaling, seperti kau pun tetap mawar meski sendiri di dalam belukar belantara".
Adegan dialog antara Iwan Fals dan Jabo dalam "HIO" juga ditampilkan sangat cantik, gelap cahaya hanya menyinari tubuh kedua tokoh yang duduk bersila berhadapan ... saya jadi membayangkan seperti adegan pendek dari "Bhagawadgita" he ... he ...
scene antara iwan fals dan jabo di tepi pantai diatas sebuah tempat tidur di atas pasir, juga sangat romantis ... menembus "ruang percintaan" yang terbiasa diimajinasikan antara laki dan perempuan. Adegan itu memang mungkin metafor soal keheningan, kedekatan, refleksi dari jabo dan iwan ... mereka hanya diam di atas tempat tidur (iwan berdiri di pojok tiang dipan) ... tanpa suara .....
Ada jg adegan yang cukup jenaka, ketika iwan bertemu dengan anak-anak yang telanjang mandi di kali, ia ditodong untuk menyanyi bento, dan mereka pun bernyanyi bersama, anak-anakpun tetap telanjang. Tak lama berselang ada "birokrat" yang sedang melihat-lihat tanah rimba disana ... bersama dengan "orang-orang kalah" anak-anak yang telanjang tadi kemudian mengejar mereka sambil berteriak "bento !!!" yang lari terbirit-birit dengan mobil mewahnya. Lagu BENTO pun kemudian muncul di film termasuk yang live-show
Cukup menarik dari film ini menampilkan ilustrasi metafor sebelum masuk ke lagu, meski cukup berat tapi refer ke pengalaman dan situasi kehidupan sudah terasa cukup tanpa harus paham betul arti dari lirik-lirik itu setiap lariknya ...
Dengan asumsi kalau kelompok Kantata merupakan "kelompok lakon" (ditulis dengan ingatan atas kartu kwartet jaman saya masih SD). Maka tampilan "kelompok non lakon" dengan jubah jas hujan ponco serta masker gas, yang kemudian menguber-uber "kelompok lakon", dengan senapan dan menaiki kuda ....
Selain RENDRA yang dihakimi, semua "kelompok lakon" berhasil dibunuhi oleh "kelompok non lakon". Mungkin RENDRA juga dibunuh setelah diadili 3 hakim bertopeng ... JSOP mati di hajar pakai popor senjata, Djodi mati ditindih bantal di atas ranjang istana-nya, Jabo mati ditembak, Iwan yang paling sadis, mati dihajar dengan gigi yang dicabut satu-satu .... Adegan-adegan ini sarat kekerasan (hmm bukankah hidup memang keras, matipun kadang lebih keras).
Dan seperti lagu kesaksian di awal film ... seperti YESUS pula kelompok lakon ini bangkit menjadi penyaksi ... ketika rombongan Puan Berkerudung berjalan melintasi padang pasir di tepi pantai yang mungkin menuju LAUTAN METAFOR
tabik ...
PS: diluar gedung TBY Djadug, Hairus Salim Gong, dan kawan2 lain ngobrol, kira-kira begini penasarannya, kalau semangat teman-teman KANTATA seperti difilm itu ... kok mereka bisa ya? padahal itu jaman ORBA yang sangat represif ... metafor aja seringkali dilarang apalagi dengan lirik rendra yang cukup banyak terlihat lugas itu ..... ??? mungkin faktor SD yang memang sahabat dari anak penguasa ORBA waktu itu ... wallahu alam.
*** segera menyusul review terakhir .. KANTATA TAKWA the movies (PART 3: Live Show)
MAAP JIKA TULISAN SAYA NDAK BERKENAN INI LAGI BELAJAR MENULIS ...

 | Iku pilem gak diputer gawe umum ta ? kok aku gak tau nonton ?
|
 | matur suwun, cak.... sangat informatif.... |
 | sami-sami ... cuma kayaknya ndak begitu informatif saya sendiri kesiksa kok pas mbaca ulang tulisan saya ... he ... he ... |
 | temanya yg membuat tulisan ini menarik... lama sekali menunggu kabar ttg film ini, akhirnya datang juga hari ini, hehhehe...
ditunggu mas, semoga ada kelanjutannya, part 3 gitu... |
 | harga tiket kena brp nich kalo ama tmn2 oi...??? Bisa kali kurang,,,, hehehehe... Pas brp ...??? |
 | sudah nonton film nya mas? |
 | sudah ... pas diputar gratis di jogjakarta |
 | kalau mau beli DVDnya dimana ya?
|
 | sy juga belum tahu mas ... masih nyari juga |
| |